27 Desa Wajib Mengungsi, Gunung Agung Kembali Bersetatus “Awas”

0
483
27 Desa Wajib Mengungsi, Gunung Agung Kembali Bersetatus "Awas"
27 Desa Wajib Mengungsi, Gunung Agung Kembali Bersetatus “Awas”

Indolah.com, Jakarta¬† – 27 Desa Wajib Mengungsi, Gunung Agung Kembali Bersetatus “Awas”, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika menegaskan hanya 27 desa yang masyarakatnya diwajibkan untuk mengungsi sesuai kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung. Sedangkan warga yang tinggal di daerah zona aman, diharapkan tidak perlu ikut-ikutan mengungsi. Mereka yang terlanjur mengungsi di diharapkan pulang kembali desanya lagi.

“Yang wajib mengungsi adalah mereka yang berada di KRB satu, dua dan tiga. Di luar itu akan dipulangkan dalam kurun waktu seminggu ke depan,” kata Pastika ketika memimpin rapat koordianasi kesiapsiagaan bencana Gunung Agung di Pos Komando Tanah Ampo Kabupaten Karangasem, Jumat (29/9).

Baca Juga: Miris! Siswi SMA di Bangka ini Melahirkan Bayi 2,8 Kg di Toilet Sekolah Saat Jam Pelajaran

Pastika mengatakan total pengungsi hingga Jumat (29/9) di sembilan kabupaten/kota mencapai sekitar 144.389 orang adalah angka yang tidak realistis kalau melihat dari warga yang terkena KRB. Jumlah tersebut jauh dari perkiraan sebelumnya yaitu hanya sekitar 70.000 orang saja.

Menurutnya, pihaknya mengkhawatirkan beban pemerintah dan tim penanggulangan bencana sangat berat jika pengungsi dengan jumlah diluar ekspektasi itu tetap dibiarkan di pengungsian.

Sebanyak 27 desa tersebut yakni tujuh desa di Kecamatan Kubu yakni Desa Tulamben, Kubu, Dukuh, Baturinggit, Sukadana dan Tianyar (Tianyar tengah dan barat aman). Kemudian lima desa di Kecamatan Abang yakni Desa Pidpid (bagian atas), Nawekerti, Kesimpar, Datah (bagian atas) dan Ababi (atas dan barat).

Selanjutnya, sebanyak tiga desa di Kecamatan Karangasem yakni Desa Padangkerta, Subagan dan Kelurahan Karangasem (dekat Tukad Janga). Selain itu juga empat desa di Kecamatan Bebandem yakni Desa Buwana Giri (bagian atas), Budekeling (dekat Sungai Embah Api), Bebandem (bagian atas) dan Jungutan.

“Desa-desa di Kecamatan Selat dan Rendang juga wajib mengungsi yakni Desa Duda Utara, Amerta Buwana, Sebudi, Peringsari, Muncan, Besakih, Menanga dan Pembatan,” paparnya.

Gubernur Pastika mengaku bingung kenapa jumlah pengungsi terus membengkak. Karena itu, Tim penanggulangan bencana diharapkan bekerja cepat mengembalikan pengungsi yang ada di luar KRB ke desa masing-masing untuk beraktivitas seperti biasa. “Saya yang menjamin jika masyarakat yang tinggal di luar KRB aman. Jika memang terjadi letusan baru kemudian dilakukan tindakan pengamanan lanjutan,” demikian Pastika.

Dipulangkan

Membeludaknya jumlah pengungsi menjadi kendala tersendiri dalam hal penanganan soal pengungsian. Sebab, warga desa yang wilayahnya masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III dan KRB II atau berada di radius 6 km hingga 9 km dari puncak Gunung Agung, PVMBG merekomendasikan agar warga tidak melakukan aktifitas dan berada di zona aman. Adanya kepanikan atau ketakutan, membuat warga yang daerahnya tidak masuk pemetaan rekomendasi bahaya juga ikut mengungsi.

Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi dan Mititasi Bencana Geologi Kemeterian ESDM, I Gede Suantika menyatakan, pasca Gunung Agung ditetapkan ke level IV awas, radius yang tidak aman atau wilayah berbahaya masih di radius 9 km, dan 12 km wilayah sektoral, meliputi utara, selatan, barat daya dan tenggara. Namun zona sektoral ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan aktifitas Gunung Agung.

Warga yang kawasan tidak direkomendasi masuk wilayah berbahaya diimbau kembali ke rumah masing-masing. “Yang KRB I sudah kami batasi, tidak semua terdampak. kemudian di radius 12 km, kalau ada kampung yang tidak masuk dalam rekomendasi bahaya kami. mereka harus kembali. Ya mungkin karena takut dan panik,” jelasnya Jumat (29/9)

Dirinci, untuk KRB III berpotensi tinggi terlanda awan panas, aliran lava, guguran lava dan gas berbahaya dan bisa terkena jatuhan batu pijar berukuran lebih dari 64 milimeter. KRB II, berpotensi sedang, terlanda awan panas, aliran lava dan aliran lahar. Kawasan ini juga berpotensi terhadap lontaran batu pijar, namun ukurannya seukuran batu kerikil disertai hujan abu lebat.

Sedangkan KRB I, berpotensi dilanda aliran lahar atau banjir dan kemungkinan terkena perluasan awan panas. Serta longsoran tebing batu pijar dengan ukuran 10 milimeter disertai hujan abu lebat, namun tidak semua kawasan terdampak.

“Kita merekomendasikan kawasan berbahaya untuk menyelamatkan warga dari luncuran awas panas. Ini kita belum bicara tentang bahaya gas, baru awan panas dan jatuhan krikil, serta debu pasir,”

Dikatakan Suantika, jika ada peningkatan erupsi gunung, maka PVMBG akan membuat rekomendasi KRB baru, setelah sebelumnya menerapkan KRB radius 9 km hingga 12 km wilayah sektoral yanh mengacu erupsi 1963.

“Kita lihat, tergantung situasinya nanti. Kita akan rekomendasikan ulang lagi. Namun terkait keselamatan, pihaknya tidak berani memberi jaminan. Kalau soal keselamatan kami tidak bisa menjamin. ini hanya rekomendasi, bukan perintah,” ujarnya.

(Visited 53 times, 1 visits today)