Ahok Masuk Daftar Top 100 Pemikir Global 2017 Majalah Foreign Policy

0
33
Ahok Masuk Daftar Top 100 Pemikir Global 2017 Majalah Foreign Policy
Ahok Masuk Daftar Top 100 Pemikir Global 2017 Majalah Foreign Policy

Indolah.com – Ahok Masuk Daftar Top 100 Pemikir Global 2017 Majalah Foreign Policy, Dibalik pro dan kontra di tanah air, mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) secara mengejutkan masuk dalam daftar ‘Top 100 Global Thinker 2017’ dari majalah Foreign Policy. Ahok bahkan satu-satunya orang Indonesia yang masuk ke daftar tersebut pada tahun ini.

Nama-nama yang masuk dalam daftar ‘Pemikir Ulang Global’ 2017 tersebut adalah para pemimpin terkemuka dan intelektual dunia hasil pilihan majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat.

Ahok Masuk Daftar Top 100 Pemikir Global 2017 Majalah Foreign Policy

“Tahun ini, Foreign Policy dengan bangga mempersembahkan Global reThinkers — para legislator, teknokrat, komedian, advokat, pengusaha, pembuat film, presiden, provokator, tahanan politik, periset, ahli strategi, dan visioner — yang secara bersama-sama menemukan cara yang luar biasa, tak hanya untuk memikirkan kembali dunia kita yang baru dan aneh ini, tapi juga membentuknya kembali. Mereka adalah orang-orang yang bertindak, yang mendefinisikan 2017,” demikian dikutip dari situs Foreign Policy.

Majalah Foreign Policy menganggap Ahok , yang kini masih mendekam di tahanan Mako Brimob, Depok, sebagai tokoh yang melawan hantu fundamentalis. Ahok terpilih bersama Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Perdana Menteri Irak, Haider Abadi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, juga para aktivis perempuan Arab Saudi.

Baca Juga : Video Pamer Uang Sambil Nyetir dan Telepon Anak Viral di Medsos

Associate Editor Foreign Policy, Benjamin Soloway menulis alasan mengapa Ahok masuk ke dalam daftar Top 100 Global Thinker. Ia juga memaparkan sosok Ahok saat menjadi gubernur DKI Jakarta hingga ke kasus hukum yang menjeratnya.

“Basuki Tjahaja Purnama, for standing up to Indonesia’s creeping fundamentalism,” tulis Benjamin soal alasan pemilihan Ahok ke daftar tersebut.

Benjamin menyebut Ahok bukanlah tipe ideal bagi politikus Indonesia. Hal itu karena Ahok berasal dari kelompok minoritas di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

“Bermulut tajam (kasar), keturunan asal China dan beragama Protestan di negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar dunia, Ahok bukan tipe ideal untuk politikus di Indonesia seperti kebanyakan orang. Mungkin ini perbedaan itu yang bisa bekerja dirinya,” tulis Benjamin.

Pada awalnya, keunikan tersebut menguntungkan Ahok. Namun pada 2017, perbedaan-perbedaan itu bertabrakan dengan kelompok Islam garis keras yang semakin kuat di Indonesia.

Setelah salah ucap dalam pidato kampanye, Ahok dihukum karena menghujat, kalah dalam pemilihan dan dijebloskan di penjara. “Dia menjadi simbol paling menonjol dari pluralisme dan agama yang tersudut di Indonesia,” tulis Foreign Policy.

Jika melihat ke belakang, sungguh luar biasa bahwa Ahok, tokoh dengan minoritas ganda, pembicara publik yang impulsif, bahkan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri disebut-sebut pernah mengatakan “Seandainya ada pita ajaib bisa bisa dilekatkan di mulutnya,”, bisa berjalan sejauh Ahok.

Dalam waktu kurang dari tiga tahun, mulai dari wakil rakyat sebuah kabupaten kecil di Belitung Timur, hingga menjadi Gubernur Ibu Kota Jakarta.

Foreign Policy juga mencatat pemenjaraan Ahok menuai simpati global. Para pendukungnya di seluruh dunia menggelar acara penyalaan lilin menyatakan duka dan dukungan bagi Ahok.

Bahkan Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) turut mengutuk keputusan pengadilan terhadap Ahok. “Bukannya berbicara melawan ujaran kebencian oleh para pemimpin demonstrasi, otoritas Indonesia malah memenangkan hasutan terhadap intoleransi dan diskriminasi agama,” kata tiga pakar PBB dalam sebuah pernyataan bersama Mei lalu.

Majalah Foreign Policy sendiri adalah majalah kenamaan Amerika Serikat yang didirikan oleh Profesor dari Harvard dan rekannya Warren Demian Manshel sejak 1970. Topik majalah mencakup politik, ekonomi, integrasi dan ide global.

Foreign Policy menurunkan daftar pemikir top dunia ‘Top Global Thinker setiap tahunnya. Pada tahun ini, berbagai profesi masuk ke dalam daftar itu mulai dari presiden, legislator, teknokrat, pelawak, pengusaha hingga pembuat film.

Ahok bukan satu-satunya mantan Gubernur DKI Jakarta yang masuk dalam daftar 100 Tokoh Global Thinkers Majalah Foreign Policy. Pendahulunya, Joko Widodo, yang kini menjadi Presiden, juga pernah didapuk jadi “100 Global Thinkers” pada 2013.

(Visited 26 times, 2 visits today)