Bagaimana penanganan banjir dan letusan gunung?

0
754

Sudah beberapa bulan terakhir puluhan ribu warga di sekitar Gunung Sinabung, Sumatra Utara, mengungsi dari rumah mereka setelah status gunung berapi aktif tersebut dinaikkan.

Belakangan intensitas letusan semakin meningkat bahkan sempat mencapai 30 kali sehari.

Peningkatan aktivitas gunung memperburuk kondisi yang dialami penduduk sekitar yang telah lama mengungsi.

Menurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Robert Peranginangin, banyak pengungsi jatuh sakit akibat menghirup abu vulkanik secara terus-menerus.

Mereka, lanjutnya, juga sangat memerlukan air bersih.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan akan berkunjung ke Sinabung pekan depan.

Sementara itu banjir bandang dan tanah longsor di Manado, Sulawesi Utara, menewaskan setidaknya 16 orang. Sebagian penduduk yang terkena banjir masih belum bisa dijangkau akibat kerusakan jalan.

Bagaimana pendapat Anda mengenai penanganan bencana alam di Indonesia sejauh ini?

Apakah pemerintah daerah maupun pusat sekarang lebih sigap menghadapi bencana besar?

Bagaimana pengalaman Anda apabila kebetulan tinggal di daerah bencana?

Sumbangan pemikiran Anda kami nantikan untuk Forum BBC Indonesia di radio Kamis, 23 Januari 2014, dan juga di online BBCIndonesia.com.

Mohon isi nama dan nomor telepon Anda di kolom bawah untuk kami hubungi guna merekam pendapat Anda.

Komentar juga dapat disampaikan lewat Facebook BBC Indonesia.

Ragam pendapat

“Pemerintah masih kurang sigap dalam mewujudkan penanganan maksimal bagi warga. Dana yang telah dialokasikan belum terealisasi. Penanganan yang lemah serta kurangnya fasilitas membuat para warga masih kurang mendapat perhatian. Membangun pola sistem tanggap darurat serta revisi tata ruang harus direncanakan dari sekarang oleh pemerintah.” Adelina Lumban Gaol, Medan.

“Pemerintah harus memulai dari rencana anggaran, rencana tata ruang kota, menggusur pemukiman di bantaran sungai, kemudian revitalisasi sungai (keruk, perlebar dan bangun tanggul kiri kanan sungai. Warga dipindahkan ke daerah aman/rumah susun sebagai ganti ruginya. Terapkan regulasi tegas untuk kawasan sempadan sungai. Tiap tahun pemerintah harus siapkan dana tanggap bencana yang memadai, bangun balai penampung pengungsi yang luas didaerah aman, siapkan logistik, tim.” M. Arqam Nur Islam, Kota Bima, NTB.

“Sebaiknya korban dibawa ke posko-posko yang lebih aman lagi supaya tidak membahayakan lagi buat nyawa korban yang ada di daerah itu.” Kurnia Sari, Cirebon.

“Sudah saatnya Perencanaan Pembangunan Nasional maupun daerah RPJMD hingga Desa harus berperspektif pengurangan risiko bencana, kesepakatn global minimal 1% dari APBN harus “diinvestasikan” untuk pengurangan risiko bencana, untuk memujudkan desa tangguh bencana harus dari planning pembangunan, kelembagaan TSBD/FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa/daerah) & Konjinsiplan.” Pak Tuan Anton, Bogor.

(Visited 50 times, 1 visits today)