Buku tentang Timnas U-19 dan Indra Sjafri Diluncurkan

0
719

Yogyakarta – Buku perjalanan timnas Indonesia U-19 dan kisah hidup sang pelatih, Indra Sjafri, resmi diluncurkan. Buku-buku ini diharapkan mampu menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia dan memicu perubahan lebih besar.

Bertempat di Hotel Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Minggu (2/2/2014) siang WIB, buku dengan judul “Semangat Membatu” dan “Menolak Menyerah” diluncurkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu.

Buku “Semangat Membatu” mengisahkan perjalanan timnas U-19 sebelum Piala AFF 2013, sementara “Menolak Menyerah” menceritakan secuil perjalanan hidup Indra Sjafri.

F.X. Rudi Gunawan selaku penulis kedua buku tersebut mengaku terinspirasi dengan kisah heroik timnas U-19 dan bertekad menebar inspirasi ke seluruh masyarakat Indonesia. Ia menilai kisah ‘Garuda Jaya’ bisa jadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk optimistis dan lebih semangat keluar dari segala keterpurukan.

“Buku-buku ini momentum, untuk mengubah bangsa ini secara keseluruhan, untuk mengakhiri keterpurukan yang selama ini selalu terdengar. Melalui sepakbola, semuanya jadi terlihat realistis. Bahwa perubahan ke arah positif jadi lebih mungkin dilakukan,” kata Rudi dalam jumpa pers.

Hal senada diungkapkan oleh Menparekraf. Mari ingin semangat timnas U-19 dan Indra bisa menular ke seluruh lapisan masyarakat dan membangun kepercayaan diri bangsa.

“Kenapa kami mendukung ini? Karena kami bangga dengan timnas U19. Mereka membuat Indonesia bangga dan mengingatkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar,” kata Mari

“Ini membangun optimisme, kebanggaan, dan kepercayaan diri bangsa, mengingat selama ini pemberitaan seputar negeri ini selalu negatif,” lanjutnya.

“Dengan ini kami juga ingin mendorong gerakan ‘Ayo Menulis’, agar orang-orang hebat seperti mereka ini mau menuliskan apa yang bisa membuat bangsa terinspirasi,” ungkap Mari.

Menariknya, kedua buku tersebut ditulis dalam waktu yang relatif singkat. Rudi mengungkapkan bahwa “Semangat Membatu” selesai hanya dalam lima hari, sementara “Menolak Menyerah” dalam tujuh hari. Cepatnya proses penulisan ini diakui Rudi berkat bantuan asisten pelatih timnas Guntur Cahyo Utomo.

“Kebetulan mas Guntur ini penulis juga, sehingga proses penulisan cepat. Dia kan pelaku langsung,” tuturnya.

(Visited 45 times, 1 visits today)