Buruknya Tim Medis klub-klub Sepakbola Tanah Air

0
290
Buruknya Tim Medis klub-klub Sepakbola Tanah Air
Buruknya Tim Medis klub-klub Sepakbola Tanah Air

Indolah.com – Meninggalnya kiper Persela Lamongan, Choirul Huda, membuka mata soal Buruknya Tim Medis klub-klub Sepakbola Tanah Air.

Choirul Huda meninggal dunia usai bertubrukan dalam pertandingan Persela vs Semen Padang di Stadion Surajaya, Minggu (15/10/2017). Sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa kiper berusia 38 tahun itu tak tertolong.

Baca Juga >>> Real Madrid Berencana Mendirikan Sekolah Sepakbola Di Banda Aceh

Terkait insiden itu, penanganan Choirul Huda menjadi sorotan banyak pihak. PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi Liga 1, sebenarnya membuat regulasi yang mengatur hal tersebut.

Dalam BAB X Pasal 54 Regulasi Liga 1 soal medis diatur soal dokter dan fasilitas untuk mengatisipasi masalah cedera serius selama berlangsungnya pertandingan.

Kalau seminar secara medis tidak ada, karena diregulasi sudah cukup jelas, harus ada dokter yang mendampingi, ada peralatan yang diperlukan dalam suatu pertandingan dan dari tahun ke tahun itu tidak berubah,” COO (Chief Operation Officer) PT LIB Tigor Shalom Boboy menjelaskan.

Sudah selalu kami membahasnya dan mengingatkan, dari awal musim sampai evaluasi sudah diingatkan untuk hal-hal seperti ini. Tapi kadang-kadang dari klub-klub ini ada yang merasa “udahlah ngapain ada dokter, ngabisin biaya kalo pergi kemana-mana dan biayanya juga besar kalau menyiapkan alat-alat itu,” Tigor melanjutkan.

Tigor menilai, ada banyak klub-klub di Indonesia yang mengabaikan hal tersebut.

Ya hampir semua sih, ini cuma karena case-nya di Persela aja, coba kalo mau ngecek satu-satu, di setiap panpelnya, apa mereka sudah sediakan semua fasilitas yang sudah dipersyaratkan sesuai regulasi?” Tigor balik bertanya.

(Visited 42 times, 1 visits today)