Cerita Keluarga tentang Harun Kecil: Dia Bandel Tapi Bertanggung Jawab

0
1172

Gresik – Jalan setapak itu masih ada. Mengarah ke sebuah rumah cukup luas di Dusun Walu Tumpuh, Desa Diponggo, Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sayangnya rumah tua itu sudah tak ada yang menempati. Padahal rumah tersebut sangat bersejarah khususnya bagi keluarga besar Mahdar.

Ya, di rumah itu pernah tinggal Harun Said, seorang pahlawan besar khususnya di kalangan Angkatan Laut. Nama Kopral KKO (Kopko) Anumerta Harun Said mencuat kembali setelah namanya bakal disematkan menjadi nama KRI bersama nama rekannya, Usman bin Haji Mohammed Ali.

Jika dulu jalan setapak itu masih berlumpur tanah, sekarang jalan kecil itu sudah disemen. Jika dulu rumah tua berukuran 7 x 12 meter tersebut masih berdinding kayu, maka sekarang rumah itu sudah berdinding tembok.

“Di sanalah uwak (pakdhe) kami pernah tinggal bersama kakek, nenek, ibu, dan uwak saya yang lain,” kata Salim, salah satu keponakan Harun, kepada detikcom akhir minggu lalu di rumahnya di Dusun Walu Tumpuh, Desa Diponggo, Bawean.

Harun terlahir dengan nama Tahir dari pasangan Mahdar dan Aswiyani, seorang petani yang sangat bersahaja di dusun yang juga dikenal dengan nama Dusun Sumber tersebut. Belakangan nama Aswiyani berubah menjadi Fatimah setelah ia naik haji. Pasangan itu mempunyai 5 anak yang berdasarkan urutan lahirnya adalah Samsuri, Ruaidah, Tahir, Asiyah, dan Nawawi.

“Kalau di luar sana nama uwak saya menjadi Tohir, di sini namanya tetap Tahir karena dia terlahir dengan nama itu,” lanjut Salim.

Dalam catatan, Harun lahir pada 4 April 1947. Sekarang, dari 4 saudara Harun yang ada, 2 orang sudah meninggal yakni Samsuri dan Ruaidah. Yang masih ada adalah Asiyah dan Nawawi. Asiyah masih tinggal di Bawean, sedangka Nawawi tinggal di Jakarta.

“Kang Tahir (Harun) dulu nakal,” kata Asiyah. Asiyah tetap menyebut nama asli kakaknya meski orang luar mengenalnya sebagai Harun. Asiyah lantas mengenang kakaknya tersebut yang bandel karena enggan bersekolah dan mengaji. Jika disuruh bersekolah atau ngaji, ada saja alasannya.

“Seringnya dia ngomong ‘nanti kan bakal pandai-pandai sendiri’,” ujar Asiyah yang juga ibu Salim itu.

Meski tidak sering sekolah dan mengaji, kata Asiyah, Harun tetap bisa mengikuti pelajaran dan bisa mengaji. “Saya juga heran kok dia bisa pandai berjazid (diba’),” lanjut Asiyah.

Perempuan 70 tahun itu juga menyebut Harun cukup sering berkelahi dan tak takut apapun. Setelah dimarahi ayahnya, Harun akan pergi ke sebuah kuburan ambruk tak jauh dari rumah dan tidur di situ hingga kemarahan ayahnya mereda.

Meski nakal, sebut Asiyah, Harun sangat bertanggung jawab. Dia bersama Asiyah sering membantu ayah ibunya menjadi buruh di sawah. Upahnya dia serahkan ke orang tua untuk biaya hidup sehari-hari.

“Kalau nggak sekolah, kang Tahir mburuh sama saya. Dua kakak saya udah pergi ke Jakarta dan adik (Nawawi) masih kecil,” kenang Asiyah.

Sayangnya kebersamaan Asiyah dan Harun tak lama. Lepas dari SD, Harun meminta diberangkatkan ke Jakarta untuk merantau sekaligus menyusul kakaknya yang sudah duluan ke sana. Dan semenjak di Jakarta, Harun sama sekali tak pernah pulang ke Bawean karena sulitnya transportasi saat itu.

“Kang Tahir hanya mengirim surat yang dititipkan kenalan yang pulang ke Bawean,” kata Asiyah menutup ceritanya.

(Visited 381 times, 1 visits today)