Ini Petunjuk yang Menguak Penyebab Jatuhnya Lion Air di Karawang

0
40
Ini Petunjuk yang Menguak Penyebab Jatuhnya Lion Air di Karawang
Ini Petunjuk yang Menguak Penyebab Jatuhnya Lion Air di Karawang

Indolah.com – Ini Petunjuk yang Menguak Penyebab Jatuhnya Lion Air di Karawang, Memasuki hari kedelapan, jumlah korban Lion Air yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat dan berhasil teridentifikasi melalui DNA, sidik jari serta medis mencapai 14 jenazah dari keseluruhan 189 penumpang.

Tujuh korban yang sebelumnya sudah teridentifikasi yakni Jannatun Cintya Dewi (24), Candra Kirana (29), Munni (41) serta Hizkia Jorry Saroinsong (23), Endang Sri Bagusnita (20), Wahyu Susilo (31) serta Fauzan Azima (25).

Selain itu, badan pesawat Lion Air PK-LQ JT 610 sampai sekarang belum ditemukan. Untuk menemukannya, Tim SAR gabungan memakai robot Remotely Operated Vehicle (ROV) milik Kapal Victory Pertamina.

“Hari ini ROV telah sampai 250 meter dari lingkaran dimana bodi besar itu diketemukan. Di radius 250 meter itu kita belum dapatkan. Yang kita dapatkan cuma skin, jika serpihan cukuplah banyak,” tutur Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya M Syaugi di JCIT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu, 4 November 2018.

Selain itu, usai kotak hitam Lion Air berhasil diketemukan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berhasil mengambil Flight Data Recorder (FDR) pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Senin pagi, 29 Oktober 2018.

Akhirnya didapat data sekitar 69 jam terbagi dalam 19 penerbangan, termasuk juga waktu pesawat alami kecelakaan.

Berikut petunjut-petunjuk yang dikuak KNKT untuk menyimpulkan pemicu jatuhnya Lion Air .

1. Mesin Lion Air dalam Keadaan Hidup saat Jatuh ke Laut

Sebelum jatuh di perairan Tanjung Karawang, jam 06.33 WIB, pesawat berpenumpang 189 orang itu sudah sempat alami hilang kontak. Saat itu ketinggiannya baru sampai 2.500 kaki yang semestinya sudah ada pada 15 ribu sampai 20 ribu kaki dari permukaan laut.

Lihat keadaan itu, sang pilot sudah sempat minta pada petugas Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno Hatta untuk return to base.

Hal-hal lain yang mengagetkan waktu pesawat produksi pabrikan Boeing itu itu menghantam permukaan laut dengan keras. KNKT mengatakan keadaan mesin pesawat waktu itu masih juga dalam kondisi hidup waktu bersentuhan dengan air laut.

“Penemuan bagian mesin tunjukkan kedua mesin dalam kondisi hidup dengan RPM tinggi. Mesin berputar-putar tinggi waktu menyentuh air,” kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono.

2. Lion Air Tidak Meledak di Udara

Penemuan KNKT ini langsung menyanggah kabar bila pesawat Lion Air meledak di udara. Sebab bila meledak sebelum jatuh ke air, serpihan badan pesawat meluas.

“Pesawat alami pecah saat bersentuhan dengan air, saat impact pada air, dan pesawat tidak pecah di udara,” tambah Soerjanto.

Perihal ini dibuktikan dengan penemuan serpihan pesawat berbentuk kecil. Seandainya meledak di udara, jangkauan serpihan Lion Air semakin lebih luas.

“Saat pesawat menyentuh air, kecepatannya cukuplah tinggi, jadi serpihan yang terjadi demikian rupa. Mengisyaratkan daya yang dilepaskan waktu itu begitu luar biasa,” kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono.

Baca Juga : Baru Terbang 40 Menit, Pesawat Singapore Airlines Terpaksa Putar Balik

3. Lion Air Telah Rusak pada 4 Penerbangan Terakhir

Satu lagi kabar mengagetkan yang lain. Hasil investigasi KNKT, sebelum hilang kontak dan jatuh, pesawat Lion Air telah alami kerusakan pada empat penerbangan terakhir.

Penemuan itu terungkap dari flight data recorder (FDR) pesawat yang sudah diketemukan. Pada empat penerbangan terakhir diketemukan rusaknya pada penunjuk kecepatan di pesawat atau air speed indicator.

“Jadi pada empat penerbangan terakhir diketemukan rusaknya pada istilahnya air speed indikator,” tutur Kepala KNKT Soerjanto.

4. Verifikasi Data Black Box Perlu 2 Minggu

Lantas apa kabar dengan kotak hitam Lion Air? Sesudah berhasil diunduh, KNKT mengakui masih tetap memerlukan waktu dua minggu untuk mengidentifkasi black box yang berisi data 69 jam dari 19 kali penerbangan dengan 1.790 parameter.

“1790 parameter itu mungkin butuh sekitar satu sampai dua minggu untuk proses verifikasi data-data itu, apakah benar ataukah tidak,” tutur Ketua KNKT Soejanto Tjahjono di Hotel Ibis, Jakarta, Senin (5/11/2018).

(Visited 20 times, 1 visits today)