Kepsek yang Sebar Hoax Bom Surabaya Alih Isu Dibawa ke Polda Kalbar

0
126
Kepsek yang Sebar Hoax Bom Surabaya Alih Isu Dibawa ke Polda Kalbar
Kepsek yang Sebar Hoax Bom Surabaya Alih Isu Dibawa ke Polda Kalbar

Indolah.com – Kepsek yang Sebar Hoax Bom Surabaya Alih Isu Dibawa ke Polda Kalbar, Seorang perempuan berinisial FSA yang berprofesi sebagai kepala sekolah diamankan petugas Polres Kayong Utara, Kalimantan Barat karena diduga menyebarkan hoax soal bom Surabaya.

Dalam rangka pemeriksaan, polisi mengamankan barang bukti sebuah handphone dan nomor yang digunakan FSA.

“Saat ini yang bersangkutan dalam perjalanan menuju Polda Kalbar. Dia dikawal anggota Polres Kayong ke sini. Posisi terakhir di Ketapang. Dia dibawa naik pesawat ke sini,” kata Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Nanang Purnomo kepada wartawan, Selasa (15/5/2018).

FSA ditangkap pada Minggu (13/5) sekitar pukul 16.00 WIB oleh personel Satuan Reskrim Polres Kayong Utara di rumah kos. Dalam akun Facebook-nya, FSA menulis status analisisnya, yaitu tragedi bom Surabaya adalah rekayasa pemerintah.

“Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng ; 2. Dana trilyunan anti teror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu bong… Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!” tulis FSA, sebagaimana dikutip indolah dari akun Facebook Fitri Septiani Alhinduan, yang menjadi barang bukti polisi.

Baca Juga : Debat Pilgub Jabar Memanas Akibat Aksi Pamer Kaus 2019 Ganti Presiden

FSA juga menulis status tragedi Surabaya sebuah drama yang dibuat polisi agar anggaran Densus 88 Antiteror ditambah.

“Bukannya ‘terorisnya’ sudah dipindahin ke NK (Nusakambangan)? Wah ini pasti program mau minta tambahan dana anti teror lagi nih? Sialan banget sih sampai ngorbankan rakyat sendiri? Drama satu kagak laku, mau bikin draama kedua,” tulis FSA juga.

FSA belum ditetapkan sebagai tersangka. Polisi masih memeriksa pelanggaran yang ada di posting-an FSA. Namun dia bisa dijerat dengan pasal berlapis.

“Ada dua pasal yang akan dikenakan,” ujar Nanang.

FSA terancam jerat Pasal 28 ayat 2 UU Informasi dan Transaksi Elektronik. “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA),” jelas Nanang.

(Visited 1,891 times, 1 visits today)