Palestina Berjuang Mendapatkan Kedaulatan Ditanah Sendiri

0
3588

palestina3-copia

Indolah.com – Palestina. Negara tengah berjuang mendapatkan kedaulatan di tanahnya sendiri kini kembali bersuka cita. Negeri saban hari terhantam roket dan desingan peluru itu tak membuat warganya sungkan turun ke jalan. Mereka merayakan bersatunya kelompok Hamas, penguasa Jalur Gaza, dan Fatah, memimpin Tepi Barat.

Sebuah harapan timbul terlihat dari reaksi masyarakat Tepi Barat dan Gaza. Berselimut bendera Palestina nuansa hijau, merah, dan hitam, penduduk meneriakkan panji-panji kebesaran Tuhan dan slogan persatuan. Dua kekuatan ini diyakini bakal menghantam musuh bebuyutan mereka yang telah lama mengintimidasi dan membuat rakyat Palestina hidup dalam ketakutan, Israel, yang kini justru dirundung duka.

Konsiliasi bakal terjadi selama lima pekan mendatang, demikian lansiran surat kabar Times of Israel (23/4). Kesepakatan bersatu datang dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Hamas yang dua hari lalu menggelar pembicaraan serius. “Kami juga membicarakan soal penyelenggaraan pemilihan umum. Ini kemajuan yang signifikan,” ujar seorang sumber pejabat Palestina enggan menyebutkan namanya. Namun secara garis besar pernyataan dia mengindikasikan runtuhnya perang dingin antara dua kelompok politik besar di negara itu.

Fatah, komponen utama di tubuh PLO bukan sekali ini mencoba berekonsiliasi dengan Hamas. Tiga tahun lalu mereka menandatangani perjanjian kesatuan di Ibu Kota Kairo, Mesir bertujuan mengakhiri pembagian wilayah politik antara Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Namun perundingan ini seperti debu ditiup angin. Tak satu pun kemajuan diperlihatkan dan kedua pihak tidak melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam penjanjian.

Namun pejabat Fatah meyakinkan, perundingan kali ini akan berbeda. Surat kabar Washington Post melansir dugaan rujuk mereka lantaran tekanan dihadapi. Gaza semakin hari semakin terpuruk sejak terowongan rahasia dihancurkan Mesir atas perintah mantan menteri pertahanan Abdul Fattah al-Sisi. Padahal terowongan itu jantung kehidupan Gaza. Lewat situ lah pelbagai kebutuhan sandang, pangan, juga kebutuhan amunisi senjata Hamas tercukupi. Mereka tertampar telak saat lorong itu diberangus Kairo.

Sementara Fatah juga semakin pusing. Presiden Mahmud Abbas dipojokkan lantaran tak berkembangnya perundingan dengan Israel. Apalagi di tingkat bawah, militer Israel sudah terang-terangan menyerang warga Tepi Barat. Hal ini membuat penduduk semakin tak mempercayai Abbas. Belum lagi penundaan pemilihan umum, membuat Abbas tersudut.

Jika rekonsiliasi ini berjalan lancar, kedua belah pihak perlu benar-benar memikirkan sistem politik, keamanan, dan sosial yang bisa diterima kedua belah pihak. Niat baik bersatu merebut kedaulatan pasti berbayar manis bila melaksanakan perjanjian dengan sungguh-sungguh serta meminggirkan ego demi terciptanya Negara Palestina.

(Visited 1,621 times, 1 visits today)