Perdebatan Rossi Dan Marquez

0
832

rossi

Indolah.com – Sejak pukul 03.00 Sabtu sore (usai balapan waktu Belanda – red), saya kesulitan mengingat adanya insiden sepanjang masa kerja saya di MotoGP yang bisa menimbulkan perdebatan sama serunya dengan bentrok putaran terakhir antara Valentino Rossi dan Marc Marquez di Assen.

Saya tahu semua orang berbeda pendapat tentang apa yang terjadi di chicane (tikungan ganda) yang terakhir itu.

Buku sejarah akan mencatat bahwa Rossi meraih kemenangannya yang ke-111 dalam karir dia dengan keunggulan 1,242 detik atas Marquez. Namun data seperti itu sama sekali tak bisa menceritakan pertempuran yang akan tercatat sebagai salah satu yang terhebat dalam sejarah.

Baca juga : Safety Commission Minta Rossi-Marquez tak Bersitegang

Tentu, Rossi dan Marquez punya pandangan bertolak belakang tentang bagaimana drama itu bermula. Rossi merasa dia yang memiliki lintasan karena sedang memimpin, dan dia terpaksa harus memotong jalur karena senggolan dengan Marquez.

Marquez, yang telah bereksperimen dengan manuver itu beberapa kali sebelum balapan, meyakini dia telah menjalankan rencana dengan sempurna dengan merebut sisi dalam Rossi di zona pengereman. Karena Rossi keluar trek dan memotong chicane, Marquez meyakini pembalap 36 tahun itu mendapat keuntungan secara tidak fair dan seharusnya dikenakan penalti.

Pertama yang perlu kita ulas, apakah Marquez bertindak ceroboh ketika menyenggol Rossi?

Saya kira tidak demikian. Rossi sudah di depan di setiap tahap zona pengereman, namun ini tikungan terakhir di putaran terakhir sehingga Marquez punya hak untuk mencoba dan menyodok ke sisi dalam.

Memang ada benturan, namun lebih disebabkan karena ada seorang pembalap yang putus asa ingin menang, bukan tindakan ceroboh dan niat buruk yang disengaja. Ini jenis manuver yang telah kita lihat ratusan kali dalam balapan sebelum itu, bahkan Rossi pun juga melakukannya. Dan tak sekali pun Rossi mengkritik keras Marquez karena benturan itu.

Kesalahan dalam rencana pra-balapan Marquez adalah dia berlatih melakukan manuver itu sepenuhnya sendirian saja. Dia tak bisa memprediksi hasil manakala ada pembalap lain yang berusaha mempertahankan lintasannya, seperti yang secara sah dilakukan Rossi.

Dan seharusnya dia menyadari bahwa setiap senggolan dengan Rossi berpotensi menggiringnya ke jebakan gravel atau lebih buruk lagi.

Kemudian, apakah Rossi secara sengaja menginginkan senggolan itu karena dia tahu persis akan bisa menyeberangi jebakan gravel yang merupakan jalan pintas ke garis finis?

Kalau tidak ada benturan, Rossi akan melintasi chicane tersebut di jalurnya yang normal. Dia menuju gravel hanya karena konsekuensi langsung tabrakan. Dengan melintasi gravel, pembelaan Rossi adalah dia tak punya pilihan kecuali keluar trek, sehingga bisa menghindari sanksi akibat mengambil jalan pintas di chicane.

Rossi adalah pembalap paling cerdas yang pernah saya tahu selama meliput di paddock. Namun sengaja mengundang tabrakan ibarat bermain api dalam level yang ekstrem. Dia memang telah menutup pintu jalur bagi Marquez, namun bahkan seorang pembalap seperti Rossi takkan bisa memprediksi seberapa keras benturan yang akan terjadi, atau bagian mana dari tubuh atau motor dia yang akan ditabrak. Saya tak melihat alasan Rossi akan mengambil risiko seperti ini ketika dia tahu posisi puncak klasemen sedang dipertaruhkan.

Berikutnya, apakah Rossi pantas dihukum karena secara tidak fair memotong lintasan dari Marquez?

Race Direction menyebut ini sebagai racing incident dan saya tak melihat ada kesimpulan lain yang lebih bagus.

Tanpa ada benturan, Rossi tidak akan dipaksa keluar trek dan dia akan memenangi balapan. Dan toh tidak ada gunanya juga Rossi menyimpang dari jalurnya hanya untuk secara keterlaluan memepet Marquez.

Jika posisinya dibalik, tidak mungkin Marquez akan mengambil taktik berbeda seperti yang diterapkan Rossi. Dan Rosi juga jelas akan berusaha menyalip dengan cara yang sama.

Semuanya ditentukan oleh fakta bahwa pada dasarnya Marquez sama sekali tidak di depan Rossi. Manuvernya terjadi salah perhitungan dalam jarak hanya setengah meter, dan beban selalu ada pada pembalap yang berusaha menyalip dengan mulus dan aman. Seandainya Marquez berhasil berada di depan Rossi dan Rossi kemudian keluar trek serta melewati gravel untuk menang, maka cerita insiden ini akan berbeda sama sekali dan jauh lebih rumit.

Marquez hampir saja mampu melesat ke depan, namun kegagalan dia melakukan itu memaksa Rossi melakukan kesalahan dan satu-satunya cara mengoreksi adalah dengan keluar trek.

Marquez memang belum terbiasa menjadi yang “terbaik kedua” dalam pertempuran. Kalau ingin kalimat lebih baik, di Assen dia ditendang. Lain kali, bisa saja sepatunya berada di kaki yang berbeda.

Namun untuk saat ini, The Doctor memaksa dia menelan obatnya sendiri.

(Visited 285 times, 1 visits today)