Pesan Mendagri Untuk Mahasiswa: Kritik Boleh Fitnah Jangan

0
627
Pesan Mendagri Untuk Mahasiswa: Kritik Boleh Fitnah Jangan
Pesan Mendagri Untuk Mahasiswa: Kritik Boleh Fitnah Jangan

Indolah.com, Jakarta – Pesan Mendagri Untuk Mahasiswa: Kritik Boleh Fitnah Jangan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo melepas peserta pendidikan bela negara di Lapangan Kantor Rektorat Universitas Negeri Semarang (Unes), Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (8/9). Dalam sambutannya, Tjahjo mengingatkan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin cepat berubah.

Dia juga mempersilakan apabila para mahasiswa menyampaikan kritik atas kinerja pemerintah. Namun, dia berharap kritikan itu tak menjurus fitnah.

“Silakan mahasiswa kalau ingin sampaikan pendapat, kritik, tapi jangan fitnah,” kata Tjahjo.

Baca Juga: Mobil Fortuner Tabrak Separator Busway, Diduga Karena Sopir Mengantuk

Dia mengungkapkan, belakangan ini banyak fitnah terhadap pemerintah. Segala sesuatu yang dibuat dari pemerintah justru difitnah. Menurutnya, berbagai fitnah dapat berujung perpecahan bangsa.

“Apa yang dikerjakan dengan baik difitnah dengan baca puisi, sajak dan sebagainya. Jangan sampai 72 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini pecah oleh fitnah dari mereka yang tak bertanggung jawab,” ujarnya, tanpa menyebut puisi dimaksud.

Dia menegaskan bahwa seluruh komponen bangsa, termasuk mahasiswa harus berani menentukan sikap siapa kawan, siapa lawan kepada setiap orang dan kelompok yang ingin mengganti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dia juga menyatakan, Pancasila sepatutnya diimplementasikan oleh mahasiswa, rektor hingga kepala daerah.

“Sebagai warga negara, kita harus punya komitmen menjaga NKRI. Berbagai suku, agama, golongan itu bagian dari NKRI. Tidak ada NKRI kalau tak ada keragaman,” tegas mantan Anggota DPR dari Daerah Pemilihan Jateng I ini.

Pendidikan bela negara diikuti 6500 mahasiswa dan mahasiswi. Progam ini digelar di Rindam IV Diponegoro Magelang, Jateng. Tjahjo menjelaskan, program tersebut milik Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemristek) yang bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan.

Para mahasiswa tidak hanya diberikan motivasi untuk meningkatkan kualitas belajar, tapi juga bela negara. Sebagai Mendagri, Tjahjo berbagi tugas dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu dan Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir berbagi tugas memberikan pembekalan.

“Intinya Pak Menristekdikti membuat program bahwa seluruh perguruan tinggi tidak hanya KKN (kuliah kerja nyata) saja, tapi juga diingatkan pentingnya bela negara. Bela negara tidak berarti angkat senjata,” kata Tjahjo yang juga mantan Sekjen PDI Perjuangan.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, beberapa waktu belakangan, bangsa Indonesia tengah ‘digoda’ persoalan ideologi serta hal-hal lain. Persoalan tersebut, menurutnya, semestinya sudah tuntas puluhan tahun lalu atau ketika Indonesia merdeka.

“Kalau hari-hari ini ada kelompok, oknum tertentu yang coba benturkan kepentingan perbedaan di bangsa ini, saya titip adik-adik mahasiswa sampaikan supaya mereka tidak berani lagi goda NKRI,” kata Hendrar.

Dia menuturkan, kekuatan dunia pada tempo dulu ada dua yakni Amerika Serikat dengan NATO dan Uni Soviet dengan Pakta Warsawa. Uni Soviet akhirnya hancur karena pertikaian di dalam negeri.

“Jangan sampai suatu saat nanti cucu kita tanya, ‘dulu katanya ada negara Indonesia’. Kalau itu ditanya, berarti kita gagal. Situasi yang buat rapuh bangsa ini harus kalian lawan,” tandasnya.

(Visited 55 times, 1 visits today)