Setelah Indonesia, Kini Giliran Uni Eropa, India, dan Uni Emirat Arab Larang Boeing 737 Max 8

0
32
Setelah Indonesia, Kini Giliran Uni Eropa, India, dan Uni Emirat Arab Larang Boeing 737 Max 8
Setelah Indonesia, Kini Giliran Uni Eropa, India, dan Uni Emirat Arab Larang Boeing 737 Max 8

Indolah.com, Jakarta – Setelah Indonesia, Kini Giliran Uni Eropa, India, dan Uni Emirat Arab Larang Boeing 737 Max 8, Uni Eropa dan India menyusul sejumlah negara lain termasuk Indonesia, Inggris dan Cina dalam melarang pengoperasian Boeing 737 Max menyusul jatuhnya pesawat jenis ini yang dioperasikan Ethiopian Airlines.
Keduanya melarang Boeing 737 Max melintas di atas ruang udara mereka untuk memastikan keselamatan penumpang.

Kementerian Penerbangan Sipil India mengumumkan bahwa mereka “segera” menghentikan sementara penerbangan dengan pesawat jenis tersebut.

Mereka mengatakan: “Pesawat-pesawat tersebut akan dilarang terbang hingga dilakukan perbaikan yang layak dan langkah-langkah pengamanan diambil untuk memastikan keselamatan operasional penerbangan.”

Keputusan India mengikuti langkah Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa yang melarang penerbangan pesawat tersebut untuk sementara sebagai “tindakan pencegahan”.

Baca Juga: 1 Orang WNI Staf PBB Jadi Korban Pesawat Ethiopian yang Jatuh

Para penyelidik telah mendapatkan perekam data penerbangan (flight data recorders/FDR) dari pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh hari Minggu lalu dan tengah memeriksanya untuk menentukan penyebab jatuhnya pesawat.

Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa menyatakan: “Penyelidikan terhadap kecelakaan tengah dilakukan, dan kini terlalu awal untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan tersebut.”

Sebelumnya, Inggris, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Oman melarang pengoperasian Boeing 737 Max menyusul jatuhnya pesawat jenis ini yang dioperasikan Ethiopia Airlines.

Akhir Oktober lalu, pesawat jenis ini yang dioperasikan Lion Air jatuh di Laut Jawa. Kedua pesawat jatuh beberapa menit setelah lepas landas.

Otorita Penerbangan Sipil Inggris, CAA, mengatakan pelarangan operasional Boeing 737 Max di wilayah udara negara tersebut “sebagai langkah berjaga-jaga”.

Sementara itu, keputusan Uni Emirat Arab diambil setelah otorita penerbangan di negara tersebut mencapai kesepakatan dengan Boeing dan otorita di Amerika Serikat untuk melakukan investigasi, kata kantor berita Reuters dengan mengutip kantor berita resmi di Dubai, WAM.

Keputusan yang sama diambil oleh otorita di Malaysia, Oman, Singapura dan Australia.

Baca Juga: Upaya Pencarian Korban dan Bangkai Pesawat Lion Air JT 610 Hari Ini

Hanya ada dua maskapai yang menggunakan pesawat jenis untuk melayani rute ke Australia, yaitu SilkAir and Fiji Airways.

Shane Carmody, pejabat di Otorita Keselamatan Penerbangan Sipil Australia, mengatakan larangan terbang diberlakukan sementara pihaknya “mendapatkan lebih informasi tentang kajian risiko keselamatan”.

Otorita Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) juga untuk sementara melarang semua varian pesawat Boeing 737 Max memasuki atau keluar dari wilayah negara tersebut.

CAAS menyebutkan pelarangan itu berlaku pada Selasa (12/3) pukul 14.00 waktu setempat dan berdampak pada berbagai maskapai, termasuk SilkAir yang mengoperasikan enam Boeing 737 Max 8, China Southern Airlines, Garuda Indonesia, Shandong Airlines, dan Thai Lion Air.

Di Korea Selatan, pihak berwenang telah meminta maskapai Eastar Jet, satu-satunya maskapai yang mengoperasikan Max 8, untuk menghentikan pemakaian pesawat ini untuk sementara, kata kantor berita AFP.

Di Afrika Selatan, maskapai swasta Comair mengatakan sudah tak lagi mengoperasikan Boeing 737 Max 8.

Comair mengatakan mereka “tengah berdiskusi dengan tim pakar Boeing”.

“Keselamatan dan kepercayaan pelanggan adalah prioritas kami,” kata Comair.

Lembaga itu mengaku tengah bekerja sama dengan para maskapai yang menggunakan Boeing 737 Max dan Bandara Changi untuk meminimalkan dampaknya terhadap para penumpang.

Baca Juga: Siti Aisyah Akhirnya Dibebaskan Dari Dakwaan Pembunuhan Terhadap Kim Jong-Nam

Wartawan BBC, Karishma Vaswani, yang tengah berada di Bandara Changi, melaporkan dampak pelarangan itu tidak menimbulkan gangguan berarti.

Menurutnya, sejumlah penerbangan telah dibatalkan. Belum diketahui apakah hal itu disebabkan pelarangan yang dirilis CAAS.

Konsultan penerbangan, Ian Thomas dari CAPA Consulting, menilai “Pelarangan ini pasti akan berujung pada pembatalan penerbangam dalam jumlah signifikan serta gangguan jadwal mengingat maskapai-maskapai yang terpapar harus beralih ke tipe pesawat lain (dengan asumsi pesawat itu tersedia.”

Singapura diyakini merupakan negara pertama yang melarang penerbangan semua varian Boeing 737 Max.

Walau ada banyak negara melarang pengoperasian Boeing 737 Max menyusul dua kecelakaan mematikan dalam enam bulan, Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengatakan kepada berbagai maskapai bahwa mereka yakin model pesawat ini laik terbang.

Pesawat Ethiopian Airlines ET-302 yang sedang dalam perjalanan ke Nairobi jatuh enam menit setelah lepas landas dari Addis Ababa pada Minggu (10/03), menewaskan 157 orang.

Insiden itu menyusul jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 pada Oktober 2018 lalu yang menewaskan 189 orang.

Sejumlah kalangan dalam komunitas penerbangan telah meminta pesawat tersebut dilarang terbang untuk sementara, selama dilakukan penyelidikan secara menyeluruh.

Akan tetapi pada Senin malam, Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) “melanjutkan notifikasi laik terbang” yang menyebutkan pesawat model itu aman untuk diterbangkan.

Pemerintah Indonesia, Cina, dan Etiopia pada Senin (11/03) memerintahkan para maskapainya untuk menangguhkan penerbangan pesawat model tersebut. Maskapai lain tetap menerbangkan 737 Max 8 setelah Boeing menyatakan bahwa pesawat tersebut aman.

Saham di Boeing anjlok sebesar 12,9% pada Senin, menyusul kecelakaan Ethiopia Airlines.

Apa kata badan penerbangan AS?
Menteri Transportasi AS, Elaine Chao, berkata bahwa FAA akan “segera mengambil langkah yang tepat” jika suatu kecacatan ditemukan pada pesawat.

Kepala FAA Dan Elwell mengatakan, notifikasi tersebut “memberi tahu komunitas internasional di mana posisi kami dan (memberikan) … satu jawaban bagi seluruh komunitas”.

Paul Hudson, presiden FlyersRights.org dan anggota Komite Penasihat Pembuat Aturan Penerbangan FAA, meminta pesawat tersebut dilarang terbang.

“Sikap ‘tunggu dan lihat’ FAA membahayakan nyawa serta reputasi keamanan industri penerbangan AS,” kata Hudson dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.

(Visited 3 times, 1 visits today)