Soal Rumah Eko Terblokade Tembok Tetangga, Begini Penjelasan Ketua RW

0
203
Soal Rumah Eko Terblokade Tembok Tetangga, Begini Penjelasan Ketua RW
Soal Rumah Eko Terblokade Tembok Tetangga, Begini Penjelasan Ketua RW

Indolah.com – Soal Rumah Eko Terblokade Tembok Tetangga, Begini Penjelasan Ketua RW, Rukun warga (RW) tempat Eko Purnomo (37) tinggal angkat bicara masalah rumah yang terblokade tembok tetangga. Apakah katanya?

Ketua RW 06, Suhendi menuturkan persoalan Eko berawal waktu tahun 2016. Waktu itu, ada warga baru bernama Rahmat beli tanah pas di depan rumah Eko. Tidak cuma di depan tempat tinggalnya, samping rumah Eko juga dibeli oleh orang lain bernama Yana.

Kedua orang itu beli tanah ke orang yang sama dengan Eko yakni Saldi bekas ketua RW setempat. Eko sudah sempat mendatangi Saldi serta bertanya tentang pembangunan rumah tetangga yang otomatis tutup akses jalannya.

“Saat itu Eko meminta tolong ke saya bagaimana penyelesaiannya. Eko telah datang ke rumah pak Saldi tuturnya, namun minta pertolongan ke saya agar dapat menjelaskan. Saya pada akhirnya hadir dan kita kumpulkan semua Eko, pak Saldi, pak Yana dan pak Rahmat,” tutur Suhendi di kampung Sukagalih, Desa Pasirjati Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Rabu (11/9/2018).

Pertemuan itu membahas masalah jalan keluar untuk akses jalan rumah Eko. Waktu itu, Rahmat telah tawarkan Eko untuk beli tanah kepunyaannya supaya rumah Eko mempunyai akses jalan. Sementara tetangga samping Eko, Yana tidak ingin jual karena tanahnya cuma dikit.

“Waktu itu dianjurkan Eko nego saja dengan Rahmat. Waktu itu pak Rahmat sudah siap jual tanahnya untuk akses jalan. Dia (Rahmat) tidak memastikan harga, tetapi dengan catatan meminta harga nya sesuai dengan harga baru bukan harga lama. Terus sertifikat juga karena telah terlanjur masuk sertifikat pak Rahmat, nanti pak Eko dapat mengubah menjadi punya pak Eko,” tuturnya.

Baca Juga : Janda Cantik Karyawati Bank di Bandung Tewas Penuh Luka Tusuk

Pertemuan itu tidak membawa hasil. Suhendi lalu mendapatkan informasi Eko telah bernegoisasi dengan cara langsung dengan Rahmat.

“Pak Eko katakan ke saya harga nya mahal, dia sanggupnya Rp 10 juta padahal kan jalannya panjang,” tuturnya.

Pihak RW sudah sempat membuat kebijakan supaya pembangunan rumah Rahmat serta Yana dipending terlebih dulu selama 2 minggu sebelum ada persetujuan. Akan tetapi waktu terus berjalan sampai batas waktu yang ditetapkan, tidak ada hasil.

“Tidak ada jalan keluar pada akhirnya dibuat saja berbarengan saatnya. Samping rumah pak Eko dibangun di depannya juga dibangun. Pada akhirnya pak Eko ketutup kemana-mana. Saya juga tidak tahu mengapa dapat bersamaan, itu hak mereka yang miliki uang serta yang miliki tanahnya. Tetapi waktu dibangun, dengan baik-baik yang miliki rumah depan telah katakan ke Eko mau dibangun, Eko bilangnya silahkan karena ini tanah miliki pak Rahmat. Saya saksinya jika dia katakan jika ingin dibangun silahkan saja. Dia juga tidak mampu beli (untuk jalan) karena mahal,” katanya.

Tetangga depan Eko selesai bangun rumah dua lantai yang sekarang jadikan kontrakan oleh Rahmat.

Suhendi menambahkan waktu itu tetangga depan Eko juga tawarkan supaya rumah Eko di jual padanya. Waktu itu, Eko tawarkan harga Rp 80 juta.

“Tetapi ditawar menjadi Rp 60 juta. Eko tidak ingin. Ditawar Rp 70 juta, Eko justru naikin menjadi Rp 100 juta, bagaimana ingin beli,” katanya.

Masalah ini kembali terangkat usai Eko memposting keadaan tempat tinggalnya. Suhendi menyampaikan pihaknya akan mencari jalan keluar serta mengumpulkan beberapa pihak terkait yang berkaitan dengan masalah ini.

Seperti diketahui, rumah Eko di kampung Sukagalih RT 05 RW 06 Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung Kota Bandung terblokade tembok tetangga. Eko terpaksa angkat kaki karena tidak ada akses jalan menuju ke tempat tinggalnya.

(Visited 29 times, 1 visits today)