Terpantau Tenang, Ini 7 Analisis PVMBG Terkait Kondisi Gunung Agung

0
49
Terpantau Tenang, Ini 7 Analisis PVMBG Terkait Kondisi Gunung Agung
Terpantau Tenang, Ini 7 Analisis PVMBG Terkait Kondisi Gunung Agung

Indolah.com – Terpantau Tenang, Ini 7 Analisis PVMBG Terkait Kondisi Gunung Agung, Pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sepanjang Sabtu (2/12) kemarin, aktivitas Gunung Agung relatif tenang. Asap di puncak Gunung Agung sekitar pukul 22:30 Wita teramati sangat tipis.

Berdasarkan perekaman periodik pukul 06.00-12.00 Wita, Minggu, 3 Desember 2017, kegempaan masih, di antaranya gempa frekuensi rendah tiga kali, vulkanik dangkal tiga kali, vulkanik dalam enam kali. Namun gempa tremor masih terjadi.

Terpantau Tenang, Ini 7 Analisis PVMBG Terkait Kondisi Gunung Agung

Jeda istirahat sejenak Gunung Agung dalam beberapa waktu terakhir meninggalkan sejumlah fakta dan analisis baru dari PVMBG. Selain mengungkap karakter dari sejarah letusan Gunung Agung ditahun 1963, PVMBG punya analisa terkini.

Baca Juga : Dua Wanita Bom Bunuh Diri Tewaskan 13 Orang di Nigeria

Berikut deretan fakta dan analisa dari PVMBG :

1. PVMBG amati asap tipis dari puncak Gunung Agung

Tim PVMBG di Pos Pantau Rendang bahkan mengamati asap nyaris tak teramati sejak pukul 19.00 Wita.

Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana mengatakan, kegempaan saat ini relatif tenang.

Gas SO2 yang terukur tadi siang turun drastis konsentrasinya dibandingkan fase erupsi eksplosif pada 26-27 November 2017.
“Saat ini nilainya lebih rendah 20 kalinya,” ucap Devy.

2. Analisis PVMBG terkait kondisi Gunung Agung terkini

Ia mengungkapkan, kondisi tersebut dapat merefleksikan setidaknya dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, magma yang naik ke permukaan lajunya melemah karena kehilangan energi akibat gas magmatik telah semakin berkurang pasca erupsi beberapa waktu lalu dan pada akhirnya habis, menuju kesetimbangannya (equilibrium).

Dan kemungkinan kedua, terjadi penyumbatan pada pipa magma, sehingga fluida magma yang bergerak ke permukaan terhalang oleh lava di permukaan yang mendingin dan telah mengeras.

Ia menjabarkan, jika masa tenangnya lama, maka kemungkinan akumulasi tekanannya semakin besar, erupsi memungkinkan terjadi lebih eksplosif dari erupsi kemarin.

3. Fakta Erupsi 1963 Gunung Agung usai jeda letusan utama mencapai ketinggian 23 km

Pada erupsi tahun 1963 lalu terdapat fase istirahat sekitar 2 minggu sebelum terjadinya erupsi utama yang mencapai ketinggian sekitar 23 km.

Sedangkan, jika masa tenangnya pendek, maka kemungkinan akumulasi tekanannya tidak besar, erupsi memungkinkan untuk terjadi dengan dengan eksplosivitas mirip erupsi kemarin atau lebih rendah dari pada erupsi utama tahun 1963.

“Perlu diingat, karena kompleksitas yang dimiliki oleh gunungapi maka, sains vulkanologi hingga saat ini belum bisa didekati dengan metode deterministik (sesuatu yang pasti),” kata Devy.

“Vulkanologi adalah sains yang didekati metode probabilistik, dimana unsur ketidakpastian harus selalu dimasukkan. Artinya, meskipun saya di atas menjelaskan beberapa kemungkinan, bisa jadi Agung punya rencananya sendiri yang tidak masuk ke kemungkinan di atas. Oleh karena itu, kita perlu bersabar menunggu perkembangan data sehingga kita benar-benar melihat indikasi yang lebih jelas kemana Agung memilih jalan,” ucap Devy.

4. PVMBG imbau warga tetap waspada terkait kondisi Gunung Agung terkini

Ia mengimbau warga tetap meningkatkan kewaspadaan terkait kondisi Gunung Agung.

“Kita tidak boleh lengah dan harus selalu siap siaga dengan segala kemungkinan. Mudah-mudahan Agung memilih jalan yang kita harapkan, yaitu kemungkinan satu, erupsinya selesai, supaya masyarakat bisa segera pulang dari pengungsian dan kembali beraktivitas normal,” harap Devy.

5. PVMBG catat kembali adanya Tremor Overscale

Diberitakan sebelumnya, meskipun aktivitas kegempaan vulkanik cenderung menurun, namun tremor overscale kembali terjadi di Gunung Agung, Sabtu (2/12).

Disebut tremor overscale karena tingkat tremornya sudah melebihi ukuran dalam skala di seismograf (alat pencatat gempa). Tercatat melalui seismograf, overscale kemarin terjadi pada pukul 14. 43 Wita.

Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM, I Gede Suantika menyatakan, overscale yang terjadi kemarin lebih pendek dibandingkan tremor overscale pada 28 November 2017 lalu.

“Tanggal 2 Desember 2017 kami mencatat adanya tremor overscale. Sama seperti tanggal 28 November 2017 lalu. Tapi bedanya, yang sekarang lebih pendek. Tanggal 28 November itu memang yang paling lama, 30 menit. Kalau sekarang cuma 22 menit. Tremor overscale hari ini terjadi sekitar pukul 14.34 Wita,” jelas Suantika kemarin.

Kembali terjadinya tremor overscale, terang Suantika, menandakan ada volume magma yang keluar dari bawah ke kawah lebih besar.

“Arti overscale ini, ada volume magma yang keluar ke kawah lebih besar. Jadi masih berlangsung. Suplai magma dari kawah itu masih berlangsung,” jelasnya.

6. PVMBG Prediksi volume kawah terisi penuh oleh lava dalam tempo 10 hari ke depan

Suantika mengungkapkan, semenjak ditetapkan status Awas (Level IV), hingga kini tercatat enam kali tremor overscale.

“Hampir setiap hari tercatat. Overscale tercatat sudah keenam kali. Jadi overscale ini terkait dengan pengisian volume kawah. Magma kawah diperkirakan terisi kurang dari 50 persen dari volume total kawah. Sedangkan volume total kawah kurang dari 60 juta meter kubik,” ujarnya.

“Kemarin sebelum ada lava, terukur volume kawah sekitar 60 juta meter kubik. Sekarang kan kurang dari 50 persen yang terisi, ya sekitar 30 juta meter kubik,” lanjutnya.

Ditanya tentang prediksi kapan kawah akan terisi penuh, Suantika menyatakan, kemungkinan kawah terisi penuh sekitar 10 hari ke depan. “Mungkin sekitar 10 harian,” ucapnya.

Apakah ada gunungapi lain yang alami tremor overscale lebih dari lima kali? Suantika menjawab, Gunung Sinabung mengalami lebih dari lima kali overscale. “Dulu Gunung Sinabung. Sebelum lavanya tumpah keluar, Gunung Sinabung overscale lebih lima kali. Kasusnya sama dengan Gunung Agung,” jawab Suantika.

Terkait gempa yang terjadi pada Jumat (1/12) malam dengan skala 3,5 Richter, kata Suantika hal itu berkaitan dengan aktivitas vulkanik dan tektonik.

“Ini sangat berkaitan. Gempa tektonik itu masih di seputaran Gunung Agung. Dari September, Oktober sampai November, gempa tektonik lokal masih terdeteksi di utara Gunung Agung. Jadi diantara celah Gunung Abang dan Gunung Agung. Arah pusat-pusat gempa itu ke timur laut barat daya. Tapi sekarang melewati Kubu, Tianyar. Gempanya masih di sekitar sana semua,” paparnya.

7.PVMBG kembali akan terbangkan Drone

Dengan masih tingginya aktivitas Gunung Agung, pihak PVMBG berencana akan menerbangkan pesawat tidak berawak (drone). Namun dikatakan Devy, pihaknya masih akan memperbaiki kondisi drone pasca berhasil diterbangkan beberapa waktu lalu.

“Kami masih memperbaiki kondisi drone yang sukses mengambil gas. Ini masih kami rencanakan, mudah-mudahan minggu depan,” ujar Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana.

Penerbangan drone itu, kata Devy, untuk mengambil visual Gunung Agung secara keseluruhan. “Kami berusaha mengambil semua.Mengambil visual dan gas. Kalaupun hanya terambil visual saja, itu sudah sangat bermanfaat untuk memonitor kondisi lava di permukaan,” ucapnya.

Mengenai teramatinya garis berwarna cokelat di lereng gunung, Devy menerangkan bahwa guratan-guratan berwarna abu-abu yang terlihat dari puncak sampai ke bawah adalah material debu vulkanik yang terbawa oleh hujan.

“Kita lihat ada semacam guratan-guratan berwarna abu dari puncak sampai ke bawah, itulah material abu yang terbawa oleh hujan. Kalau sebelumnya kan tidak ada. Sementara pemantauan dari tim kami di lapangan, abu melanda wilayah puncak. Jatuhan abu ini sudah melanda wilayah puncak,” terangnya.

Ia menambahkan, material abu yang jatuh itu memang berdampak merusak tanaman, bahkan bisa menghanguskan jika jatuh dalam jarak yang relatif lebih dekat ke kawah.

“Jadi dampak langsung dari abu ini berupa rusaknya lahan. Kalau misalnya material terkumpul dalam satu aliran sungai, dan ia terbawa oleh hujan, sehingga menjadi lahar hujan. Kalau misalnya terbawa jauh, itu bisa menganggu manusia. Sehingga masyarakat harus mempersiapkan diri dengan masker dan alat penutup mata. Karena partikel abu vulkanik bersifat korosif dan juga iritasi untuk mata, kulit dan juga sistem pernafasan,” imbaunya.

Devy melihat, jangka pendek abu menjadi bencana. Artinya tanaman rusak, dan lahan tidak bisa lagi digunakan. Tapi kalau melihat jangka panjang, ini adalah satu investasi karena tanah menjadi subur dan masyarakat akan mendapat manfaatnya.

“Artinya kalau proses erupsi ini sudah selesai, tidak ada lagi hujan abu. Abu akan terbawa oleh hujan, terserap tanah. Abu ini adalah mineral yang datang dari perut bumi. Mineral yang datang dari perut bumi ini mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk menentukan vertilitas dari tanah. Ke depannya ini akan menjadi tanah yang subur,” jelas Devy.

(Visited 25 times, 1 visits today)