Viral Pengendara Tuntun Sepeda Motor di Depan Rumah Duka

0
35
Viral Pengendara Tuntun Sepeda Motor di Depan Rumah Duka
Viral Pengendara Tuntun Sepeda Motor di Depan Rumah Duka

Indolah.com – Viral Pengendara Tuntun Sepeda Motor di Depan Rumah Duka, Pengendara motor menuntun kendaraannya waktu melintas di depan rumah orang meninggal, viral.

Rupanya tradisi santun, empati dan simpati masih tetap dilakukan warga yang hidup di desa. Jika pengendara sepeda motor lihat bendera orang meninggal di tepi jalan, tanpa dikomando warga segera turun serta menuntun sepeda motornya.

Seperti yang terlihat di Dusun Prumpon, Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, contohnya. Waktu itu keluarga Jannatun Cyntia Dewi (24), korban Lion Air JT 610, menempatkan bendera tanda orang wafat. Otomatis, penggendara sepeda motor langsung turun serta menuntun sepeda motornya waktu melintas di depan rumah.

Di laman facebook Bahana Patria mengatakan dianya kaget lihat pengendara sepeda motor turun serta menuntun kendaraannya. Padahal waktu itu jam orang pergi kerja. “Saya dengar keheningan dalam pagi yang ramai. Mereka seakan-akan merapal doa supaya pemilik rumah dikasih ketabahan serta kesabaran”.

“Masih tetap ada Indonesia rupanya,” ucapnya bangga dalam facebook itu.

Ia berharap nilai-nilai mulia yang dilakukan warga yang berada tinggal di desa-desa itu masih tetap terbangun.

Baca Juga : Penulis Novel The Legend of Condor Heroes Tutup Usia

“Mudah-mudahan nilai, etika yang masih tetap kuat yang sampai kini bangun Indonesia jadi bangsa yang bermartabat akan tetap terbangun. Indonesia belumlah punah,” imbuhnya.

Seorang wartawan yang meliput korban Lion Air di Sidoarjo ikut kaget dengan kebiasaan warga itu.

“Jarang ada yang menjaga sikap santun seperti gini ini selain di desa,” kata Gancar, kameramen CNN waktu berbincang-bincang dengan rekannya.

Sementara seorang warga Desa Suruh, Fajar Ari (43) mengakui tingkah laku santun itu sejak dahulu telah dilakukan serta turun temurun.

“Perilaku santun itu telah sejak dahulu dilakukan serta turun temurun dilakukan. Saat masih tetap jalan desa, warga tentu turun menuntun sepeda motornya waktu melintas di muka orang meninggal,” kata pria yang modin Desa Suruh, Fajar Ari (43), Jumat (2/11/2018).

Berbeda lagi, jelas Fajar, bila di jalan utama atau jalan protokol, santun di muka rumah orang meninggal tidak lagi ada.

“Intinya jika masih tetap di jalan-jalan desa, kebiasaan menuntun sepeda masih tetap dilakukan. Berbeda lagi ceritanya jika telah di jalan utama atau jalan protokol, tidak lagi ada istilah menuntun sepeda,” imbuhnya.

Membimbing sepeda waktu melintas di muka rumah orang meninggal, lebih pria lulusan UIN Sunan Ampel, ini pula menjadi toleransi serta penghormatan buat orang yang meninggal dunia serta keluarganya.

“Sopanlah jika menuntun sepeda. Jika tidak menuntun sepeda tetapi yang lainnya menuntun sepeda, tentu sungkan sendiri,” tegasnya.

Hal senada diutarakan Suparman (53) warga Tanggulangin, Sidoarjo. “Setiap orang meninggal, tentu kendaraan yang melintas di muka tempat tinggalnya dituntun. Terkecuali mobil, mereka cuma perlambat lajunya,” tegas Suparman.

(Visited 15 times, 1 visits today)